PERSAHABATAN
7 NADA
Entah pukul berapa hari kini. Telah
berkali-kali kudengar denting jam. Mungkin sudah tengah malam. Namun aku tak
mau berpusing tuk memikirkan waktu. Sekelebat rasa menyelimuti sukma. Duduk
terdiam, termangu, dibibir jendela kamar. Perlahan butiran-butiran hangat
meluncur dari pelupuk mata. Fikir ini terbang melayang. Terbayang bagaimana
hati ini dapat terasa semakin tersiksa. Luka yang membekas telah tertoreh
begitu dalam. Sulit bagiku tuk memupuskan. Sama halnya dengan segenap jiwa dan
raga yang bersi keras meninggalkan kenangan. Namun nyatanya. . .terlalu perih
tuk menghilangkan. Dan masih dengan angan yang semakin dalam menerobos
kenangan, terdengar dan sayup-sayup dari lisannya yang telah menorehkan luka di
hati ini!. Perih hati ini.
“Ti nanti pulangsekolah jangan langsung
pulang yaa…..”, bujuk Mia padaku. “mau ngapain?”, balasku, “biasa curhat”,
timpal Mia. Dan begitulah Mia. Akhir-akhir ini dia selalu memintaku untuk
mendengarkan ceritanya, juga dia meminta nasihat-nasihat dariku. Bukanya aku
mau sombong, aku memang dijadikan tempat untuk curhat dikala teman-temanku
membutuhkannya. Dan menurut mereka ucapan-ucapan ku memang benar-benar berarti.
Ah… tapi aku tak mau ambil pusing, mungkin mereka memang benar-benar nyaman
denganku. Saat bel sekolah berdering, Mia langsung menghampiriku. Dan seperti
biasanya yang ia ceritakan ya tentang Gita. Ya… Gita. Gita juga sahabatku. Dan
aku bersahabat berenam. Aku, Mia, Gita, Viny, Michel, dan Yasmin telah berteman
sejak tiga tahun lalu. Dan akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang timbul
dalam persahabatan kami.
Awalnya, masalah ini timbul karena perubahan
sikap Gita. Aku pun merasakan hal yang sama dengan yang sahabat-sahabatku
rasakan. Semenjak Gita mendapatkan jabatan bergengsi di sekolah, sikapnya
berubah total !! Dan seisi sekolah cerita tentang peubahannya Gita padaku.
Bahkan orang yg tidak dekat dengan Gita sekalipun merasakan hal yang sama
dengan yang aku rasakan. Semua orang cerita ini dan itu tentang perubahan Gita.
Tapi aku, Mia, Viny, Michel, dan Yasmin yakin kalau Gita bukan tipe orang yang
seperti itu. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak menceritakan tentang semua
ini pada Gita. Dengan alas an kami tidak mau menyakiti hatinya. Kamipun
bersepakat untuk memancing-mancing Gita agar merubah sifatnya. Namun yang
terjadi judtru sebaliknya, Viny mendukung sikap Gita dan dia menceritakan semua
hal pada Gita. Hingga hubungan persahabatan yang terjalin 3 tahun seperti tak
pernah terjadi. Hancur berantakan !!
Aku, Mia, Yasmin, dan Michel merenungkan awal
dari persahabatan kami. “hanya kenangan!!”, ujarku membuyarkan lamunan. Dan
memang benar, hal itu hanya akan menjadi kenangan dengan melihat perseteruan
diantara kami. Tiba-tiba Gita dating diikuti Viny dibelakangnya. “Cukup! Maksud
lo semua apa?hah?”, bentak Gita. “maksud lo apaan sih Ta?”, Tanya Mia. “Ga usah
pura-pura bego deh lo! Buat apa sih selama ini lo semua nusuk gue dari
belakang? Buat apa?”, ujar Gita masih dengan nada membentak, “o piker gue ga
tau apa yang lo semua lakuin sama gue? Makanya kalo mau maen yang bersih
dong!”, lanjut Gita dengan nada mengejek. “Cukup Ta, selaku, “Sebelumnya sorry
kalo selama ini kita memperlakukan lo kaya gini. Mungkin lo ngerasa kita nusuk
lo dari belakang. Tapi asal lo tau, kita ngelakuin ini beralasan. Kita mau
nunjukin sama semua orang kalo Gita sahabat kita, sahabat kita itu ga seperti
yang mereka fikir. Lo semua ga pernah tau apa yang mereka semua omongin tentang
lo? Tapi kita tahu, terutama gue, gue tau apa yang mereka semua bilang ke gue,
bukan sama lo. Gue ga pernah cerita tentang ini sama lo karna gue takut lo
bakalan sakit hati. Tapi gue juga ga bisa ngebiarin cerita-cerita itu beredar
di anak-anak, image lo bakalan ancur. Dan kita ga pengen itu terjadi. Sampai
akhirnya kita mutusin untuk mincing-mancing lo supaya lo beruabah. Gue pengen
nunjukin sama semua orang kalo Gita itu ga seperti apa yang mereka fikir. Dan
gue pengen bilang “ini loh Gita!”. Tapi apa? Semua usaha kita GATOT!! (gagal
total). Lo malah nganggep kita muna, musuh dalam selimut, dan tuduhan-tuduhan
lo yang lain’.
“Bilang aja lo sirik!”, timpal Gita masih
dengan nada menantang,
“Sirik? Buat apa gue sirik? Gue sama sekali
ga pernah sirik sama lo! Sirik sama jabatan lo? Buat apa? Popularitas? Gue ga
butuh popularitas. Jadi buat apa gue sirik? Ayolah Ta. . . coba lo fikir! Kalo
kita sirik sama jabatan lokenapa kita ga dati dulu aja ngelakuin hal itu?”,
jawabku dengan terengah.
Kembali butiran hangat membasahi pipi, dan
kali ini kami berenam. Tak ada kata yang dapat melukiskan siang ini. Senyap!
Kami sibuk dengan alam bawah sadar kami masing-masing. Hanya suara sesegukan
dari tangis yang terdengar. Selagi ku mencoba kembali dari khayalku, terdengar
suara parau berkata “maaf” dan suara itupun semakin nyata “Sisty . . . maafin
gue! Temen-temen maafin gue! Gue emang egois!”, ujar Gita membuyarkan lamunan.
“Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan” ujarku.
Senyum mengembang tercipta diantara kami
disertai dengan pelukan hangat. Dalam pelukan hangat. Dalam pelukan ku berucap,
“kalian tau persahabatan tujuh nada? Apa artinya re tanpa mi? apa artinya mi
tanpa fa? Apa artinya fa tanpa sol? Apa artinya sol tanpa la? Apa artinya la
tanpa si? Begitu juga persahabatan ini, yak an?”. “tapi kayanya ga pas deh kita
kan Cuma berenam” canda Michel disahut dengan gelak tawa.
Banyak hal di dunia ini yang tak dapat kita
mengerti. Sekeras apapun kita untuk mengerti, pada akhirnya kita kan menemui
kebuntuan. Dan banyak pula dari bagian hidup kita yang tak dapat kita mengerti.
Karena tak sepatutnya kehidupan itu di mengerti. Jalanilah kehidupan! Karena
kehidupan hanya patut dijalani bukan untuk dimengerti.
Hikmah :
Kebaikan : “Menyelasaikan masalah dengan
kepala dingin, bukan dngan emosi, membingbing kita agar kita mampu mengabil
cara yg baik dalam menghadapi masalah, menjaga perasaan orang lain dalam
berbicara maupun bersikap, memahami perasaan orang lain, dan bijaksana dalam
mengambil sikap”.
Kejelekan : “berburuk sangka kepada
sahabat-sahabatnya, terlalu egois dan ingin menang sendiri, tidak bisa dipercaya,
dan juga selalu takabur”.
Kesimpulan :
Dalam
hidup kita memang selalu dihadapkan dalam sebuah masalah, tapi semua itu
semata-mata hanya membuat kita semakin dewasa. Kita dituntut agar mampu menjaga
dan memahami perasaan orang lain agar orang lain yang berada disekitar kita
tidak merasa tersinggung. Dalam persahabatan begitu banyak warna ada suka,
duka, bahagia, canda, tawa, maupun tangisan. Namun semua itulah yang membuatnya
indah, yang menjadikan kita bersatu, mengerti satu dengan yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar