Jumat, 27 April 2012

Persahabatan 7 Nada


PERSAHABATAN 7 NADA

Entah pukul berapa hari kini. Telah berkali-kali kudengar denting jam. Mungkin sudah tengah malam. Namun aku tak mau berpusing tuk memikirkan waktu. Sekelebat rasa menyelimuti sukma. Duduk terdiam, termangu, dibibir jendela kamar. Perlahan butiran-butiran hangat meluncur dari pelupuk mata. Fikir ini terbang melayang. Terbayang bagaimana hati ini dapat terasa semakin tersiksa. Luka yang membekas telah tertoreh begitu dalam. Sulit bagiku tuk memupuskan. Sama halnya dengan segenap jiwa dan raga yang bersi keras meninggalkan kenangan. Namun nyatanya. . .terlalu perih tuk menghilangkan. Dan masih dengan angan yang semakin dalam menerobos kenangan, terdengar dan sayup-sayup dari lisannya yang telah menorehkan luka di hati ini!. Perih hati ini.
“Ti nanti pulangsekolah jangan langsung pulang yaa…..”, bujuk Mia padaku. “mau ngapain?”, balasku, “biasa curhat”, timpal Mia. Dan begitulah Mia. Akhir-akhir ini dia selalu memintaku untuk mendengarkan ceritanya, juga dia meminta nasihat-nasihat dariku. Bukanya aku mau sombong, aku memang dijadikan tempat untuk curhat dikala teman-temanku membutuhkannya. Dan menurut mereka ucapan-ucapan ku memang benar-benar berarti. Ah… tapi aku tak mau ambil pusing, mungkin mereka memang benar-benar nyaman denganku. Saat bel sekolah berdering, Mia langsung menghampiriku. Dan seperti biasanya yang ia ceritakan ya tentang Gita. Ya… Gita. Gita juga sahabatku. Dan aku bersahabat berenam. Aku, Mia, Gita, Viny, Michel, dan Yasmin telah berteman sejak tiga tahun lalu. Dan akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang timbul dalam persahabatan kami.
Awalnya, masalah ini timbul karena perubahan sikap Gita. Aku pun merasakan hal yang sama dengan yang sahabat-sahabatku rasakan. Semenjak Gita mendapatkan jabatan bergengsi di sekolah, sikapnya berubah total !! Dan seisi sekolah cerita tentang peubahannya Gita padaku. Bahkan orang yg tidak dekat dengan Gita sekalipun merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Semua orang cerita ini dan itu tentang perubahan Gita. Tapi aku, Mia, Viny, Michel, dan Yasmin yakin kalau Gita bukan tipe orang yang seperti itu. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak menceritakan tentang semua ini pada Gita. Dengan alas an kami tidak mau menyakiti hatinya. Kamipun bersepakat untuk memancing-mancing Gita agar merubah sifatnya. Namun yang terjadi judtru sebaliknya, Viny mendukung sikap Gita dan dia menceritakan semua hal pada Gita. Hingga hubungan persahabatan yang terjalin 3 tahun seperti tak pernah terjadi. Hancur berantakan !!
Aku, Mia, Yasmin, dan Michel merenungkan awal dari persahabatan kami. “hanya kenangan!!”, ujarku membuyarkan lamunan. Dan memang benar, hal itu hanya akan menjadi kenangan dengan melihat perseteruan diantara kami. Tiba-tiba Gita dating diikuti Viny dibelakangnya. “Cukup! Maksud lo semua apa?hah?”, bentak Gita. “maksud lo apaan sih Ta?”, Tanya Mia. “Ga usah pura-pura bego deh lo! Buat apa sih selama ini lo semua nusuk gue dari belakang? Buat apa?”, ujar Gita masih dengan nada membentak, “o piker gue ga tau apa yang lo semua lakuin sama gue? Makanya kalo mau maen yang bersih dong!”, lanjut Gita dengan nada mengejek. “Cukup Ta, selaku, “Sebelumnya sorry kalo selama ini kita memperlakukan lo kaya gini. Mungkin lo ngerasa kita nusuk lo dari belakang. Tapi asal lo tau, kita ngelakuin ini beralasan. Kita mau nunjukin sama semua orang kalo Gita sahabat kita, sahabat kita itu ga seperti yang mereka fikir. Lo semua ga pernah tau apa yang mereka semua omongin tentang lo? Tapi kita tahu, terutama gue, gue tau apa yang mereka semua bilang ke gue, bukan sama lo. Gue ga pernah cerita tentang ini sama lo karna gue takut lo bakalan sakit hati. Tapi gue juga ga bisa ngebiarin cerita-cerita itu beredar di anak-anak, image lo bakalan ancur. Dan kita ga pengen itu terjadi. Sampai akhirnya kita mutusin untuk mincing-mancing lo supaya lo beruabah. Gue pengen nunjukin sama semua orang kalo Gita itu ga seperti apa yang mereka fikir. Dan gue pengen bilang “ini loh Gita!”. Tapi apa? Semua usaha kita GATOT!! (gagal total). Lo malah nganggep kita muna, musuh dalam selimut, dan tuduhan-tuduhan lo yang lain’.
“Bilang aja lo sirik!”, timpal Gita masih dengan nada menantang,
“Sirik? Buat apa gue sirik? Gue sama sekali ga pernah sirik sama lo! Sirik sama jabatan lo? Buat apa? Popularitas? Gue ga butuh popularitas. Jadi buat apa gue sirik? Ayolah Ta. . . coba lo fikir! Kalo kita sirik sama jabatan lokenapa kita ga dati dulu aja ngelakuin hal itu?”, jawabku dengan terengah.
Kembali butiran hangat membasahi pipi, dan kali ini kami berenam. Tak ada kata yang dapat melukiskan siang ini. Senyap! Kami sibuk dengan alam bawah sadar kami masing-masing. Hanya suara sesegukan dari tangis yang terdengar. Selagi ku mencoba kembali dari khayalku, terdengar suara parau berkata “maaf” dan suara itupun semakin nyata “Sisty . . . maafin gue! Temen-temen maafin gue! Gue emang egois!”, ujar Gita membuyarkan lamunan. “Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan” ujarku.
Senyum mengembang tercipta diantara kami disertai dengan pelukan hangat. Dalam pelukan hangat. Dalam pelukan ku berucap, “kalian tau persahabatan tujuh nada? Apa artinya re tanpa mi? apa artinya mi tanpa fa? Apa artinya fa tanpa sol? Apa artinya sol tanpa la? Apa artinya la tanpa si? Begitu juga persahabatan ini, yak an?”. “tapi kayanya ga pas deh kita kan Cuma berenam” canda Michel disahut dengan gelak tawa.
Banyak hal di dunia ini yang tak dapat kita mengerti. Sekeras apapun kita untuk mengerti, pada akhirnya kita kan menemui kebuntuan. Dan banyak pula dari bagian hidup kita yang tak dapat kita mengerti. Karena tak sepatutnya kehidupan itu di mengerti. Jalanilah kehidupan! Karena kehidupan hanya patut dijalani bukan untuk dimengerti.


Hikmah :
Kebaikan : “Menyelasaikan masalah dengan kepala dingin, bukan dngan emosi, membingbing kita agar kita mampu mengabil cara yg baik dalam menghadapi masalah, menjaga perasaan orang lain dalam berbicara maupun bersikap, memahami perasaan orang lain, dan bijaksana dalam mengambil sikap”.
Kejelekan : “berburuk sangka kepada sahabat-sahabatnya, terlalu egois dan ingin menang sendiri, tidak bisa dipercaya, dan juga selalu takabur”.



Kesimpulan :
            Dalam hidup kita memang selalu dihadapkan dalam sebuah masalah, tapi semua itu semata-mata hanya membuat kita semakin dewasa. Kita dituntut agar mampu menjaga dan memahami perasaan orang lain agar orang lain yang berada disekitar kita tidak merasa tersinggung. Dalam persahabatan begitu banyak warna ada suka, duka, bahagia, canda, tawa, maupun tangisan. Namun semua itulah yang membuatnya indah, yang menjadikan kita bersatu, mengerti satu dengan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar